Peradaban Islam terdahulu tidak dapat dipisahkan dari tradisi membaca dan menulis atau literasi. Tradisi literasi seakan menjadi ruh kaum muslim saat abad kejayaan. Selain itu, tradisi literasi juga merupakan indikator kemajuan bangsa.

Kita selalu mendapat cerita bagaimana para ilmuwan muslim terdahulu dapat menghasilkan berbagai karya yang monumental. Temuan-temuannya dapat secara total mengubah dunia. Bahkan, tidak sedikit karya mereka dijadikan rujukan kelilmuan hingga hari ini.

Tulisan ini akan menguak beberapa hal yang dapat kita pelajari dari para ilmuwan muslim terrdahulu. Berikut kami rangkum menjadi lima poin.

Bagi para ilmuwan muslim, melakukan aktivitas ilmiah merupakan bagian dari ibadah serta bukti berserah diri ke hadirat Allah SWT. Pendalaman ilmu serta pembuatan karya, mereka lakukan bukan dalam rangka mencari uang atau popularitas.

Hal Ini sangat berbeda dengan para ilmuan non muslim hari ini, yang kebanyakan dari mereka adalah serang ateis. Kalaupun tidak ateis, mereka merasa tak perlu melibatkan Tuhan dalam proses keilmuannya.

Tentu ini menjadi inspirasi bagi kita para pencari ilmu. Sebelum mempelajari apapun, atau ketika menulis sebuah karya, luruskan niat untuk beribadah pada Allah SWT.

  • Membuka karya dengan kalimat Basmalah, Tahmid, dan Shalawat kepada Nabi.

Para Ilmuwan muslim terdahulu terbiasa untuk menuliskan kalimat Basmallah, Tahmid, dan Shalawat kepada Nabi di bagian pembukaan karyanya. Penyebutan tiga hal ini lazim dan merupakan ciri khas karya hampir semua ilmuwan muslim.

Aktivitas itu mereka lakukan tidak hanya ketika akan menulis buku agama. Ada buku astronomi berjudul Mulakhkhash fi al-Ha’iah karya Syarf ad-Din Mahmud bin Muhammad bin Umar al-Jighminy, disebutkan di awal buku “Segala puji bagi Allah, seutama-tama puji, shalwat atas Nabi dan ekluargnya. Berkata hamba Allah yang fakir kepada rahmat-Nya, Mahmud bin Muhamad al-Jighminy, semoga Allah merahmatinya”.

Tradisi ini sekaligus menunjukkan bahwa sebuah karya meski bergenre sains-eksakta dan bertaraf magnum opus adalah semata pemberian Allah dan bermuara kepada nilai dan pesan ilahi. Tercermin sikap zuhud dari para ahli ilmu.

  • Senantiasa berdoa

Dalam praktiknya, para ilmuwan muslim senantiasa berdoa kepada Allah, berharap tulisannya bermanfaat dan berkah. Salah satu bentuk do’a itu adalah berwudhu dan shalat sunnah. Itu dilakukan oleh Al Bukhari.

Imam al-Bukhari, dalam mengoleksi hadist, salah satu ritualnya adalah shalat sunnah dua rakat sebelum mencatat dan mennetukan derajat sebuah hadis. Ibnu Rusdy bahkan biasa mandi junub setiap pagi, karena dia biasa menulis karyanya selepas shalat subuh.

Kebiasaan ini sangat bisa kita contoh dengan mengaktualisasikannya ke dalam karya-karya kita. Apapun genre buku yang sedang kita kerjakan, akan lebih berkah ketika kita memberi pembukaan dengan rasa syukur pada Allah SWT.

  • Memenuhi kewajiban

Pernahkah kita berfikir, untuk apa belajar matematika. Apakah matematika itu akan ditanyakan di alam kubur? Pertanyaan semacam itu mungkin pernah hinggap di benak kita. Tentu hal itu terjadi dikarenakan kurangnya kita dalam belajar dan bisa jadi masih ada setitik kesombongan dalam hati.

Jawabannya, bila ada kewajiban yang membutuhkan satu ilmu, maka menguasai ilmu tersebut menjadi wajib. Jika ada satu permasalahan yang tidak tuntas karena membutuhkan perhitungan, maka belajar matematika menjadi fardhu.

Contoh, misal ada orang kurang membayar zakat atau salah membagi waris karena lemah dalam matematika, maka dia berdosa. Apabila Suatu kaum terhalang pergi haji karena tidak ada yang bisa membuatkan kapal atau pesawat, sedangkan untuk itu diperlukan matematika lanjut, maka berarti wajib ada dari kaum itu yang belajar matematika hingga level itu.

  • Mencintai ilmu

Ketika perang salib terjadi, saat Romawi merebut Mesir, mereka dengan sengaja membakar manuskrip yang ada di perpustakaan Alexandria. Padahal kala itu, dan mungkin di masa depan, manuskrip tersebut menjadi harta yang tak ternilai harganya.

Berkebalikan dengan fenomena itu, saat kaum muslim berhasil merebut Mesir, mereka justru melindungi Perpustakaan tesebut tanpa memandang ilmu apa yang ada di dalamnya. Mereka menyadari begiitu berharganya sebuah ilmu.

Kita juga dapat mencontohnya dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan dengan menjaga dan membaca buku-buku kita. Mengedepankan adab terhadap ilmu dan sumber ilmu, yakni guru-guru kita. Insyaallah ilmu akan kita dapatkan.

SHARE
Previous articleMari Bicara Cinta

LEAVE A REPLY